Senin, 28 Desember 2009

Penjelasan tentang Memory

Memory atau main m emory dapat di bayngkan sebagi kumpulan kotak-kotak yang masing dapat menyimpan suatu penggal informasi baik berupa data maupun instruksi. Umumnya 1 Byte memory terdiri dari 8 bit dan tiap bit diwakili oleh 1 atau 0: Kombinasi bit dalam byte tersebut membentuk suatu kode yang mewakili isi dari lokasi memory.

Kode yng di gunakan untuk mewakilinya tergantung dari komputer yang di gunakan, dapat membentuk sistem kod BCD ( binary-Coded Decimal ). Sistem kode SBCDIC (Standart Binary Coded Decimal Interchange Code ). Sistem kode EBCDIC (Extended Binary Coded Decimal Interchange Code). Atau sistem kode ASCI (american Standart Code for Information Interchange).

Misalnya suatu komputer mempunyai kapasistas memory 256 Kb atau 266.144 byte, yang berarti mempunyai 282.144 lokasi memori. Alamat dan memori ini adalah bernomor 000000 sampai dengan 252.143

Main Memory terdiri dari :
1. RAM (Random Accses Memory)
Merupakan memory yang dapat diisi dan diambil isinya oleh programmer.semua data dan program yang di masukan lewat alat input akan di simpan dahulu di RAM.

Struktur dari RAM, di bagi menjadi :
  • Input Stroge, di gunakan untuk menampung input yang di masukan lewat alat input
  • Program Stroge, di gunakan untuk menyimpan semua instruki program yang akan di proses 
  • working Stroge, di gunakan untuk menyimpan data yang akan diolah dan hasil dari pengolahan 
  • Output Storage, di gunakn untuk menampung hasil akhir dari pengolahn data yang akn di tampilkan ke alat output
2. ROM (Read Only Memory)
Memori ini  hanya dapat di baca saja, progremmer tidak bisa mengisi susuatu ke dalam ROM. Isi ROM sudah di isi olh pabrik pembuatnyaberupa sistem operasi yang terdiri dari program-program pokok yang di perlukan oleh sistem komputer, seperti program untuk mengatur penampilan karakter, pengisian tombol kunci dan bootstrap program.


Bootstrap program di perlukan pada waktu pertama kali sisitem komputer diaktifkan, yang proses ini disebut dengan istilah booting, yang terdiri dari:
  • Cold booting, yaitu proses mengaktifkan istem komputer pertama kali untuk mengambil bootstrap program dari keadaan listrik komputer mati.
  • Warm booting,yaitu proses penulangan pengambilan bootstrapprogram dalam keadaan komputer masih hidup.

Instruksi yang tersimpan di ROM disebut dengan microinstruction atau microde atau di sebut juga firmware. Isi dari ROM tidk bolej hilang atau rusak, karena dapat mnyebabkan sistem komputer tidak berfungsi.


ROM bersifat non volatile, artinya isinya tidak hilang bila litrik komputer dimatikan. Jenis-jenis ROM :
  • PROM (programmable Read Only Memory), yaitu ROM yang dapat diprogram sekali saja dan tidak dapat diubah kembali 
  • EPROM (Erasable Programmable Read Only Memory), Yaitu ROM yang dapat dihapus dengan sinar ultra violet serta dapat di program kembali berulang-ulang.
  • EEPROM (Electrically Erasable Programmable Read Only Memory),Yaitu ROM yang dapat dihapus secara elektronik dan dapat diprogram kembali.

Selasa, 22 Desember 2009

Sejarah Islam Di P. Jawa







KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI PULAU JAWA



1. Kerajaan Pajang.


Kerajaan Pajang adalah sebuah kerajaan yang berpusat di Jawa tengah sebagai kelanjutan Kerajaan Demak yang berada di Surakarta. Sultan trenggana mengankat jaka tingkir menjadi menantunya dengan Ratu kalinyamat. Jaka tinggir atau yang bergelar Hadiwijaya akhirnya yang menjadi pewaris takhta kerajaan demak yang ibu kotanya dp pindahkan ke pajang. Akhirnya Hadiwijayalah yang menjadi raja pajang yang pertama.

Setelah Hadiwijaya naik takhtah memberikan daerah mataram dan mengangkat ki Ageng Pemanahan menjadi bupati daerah itu. Setelah Ki Ageng meninggal kekuasaan bupati diberikan kepada sutawijaya dan demak diserahkan kepada Pangeran Arya Pangiri (Putra Sunan Prawata).

Sultan Hadiwijaya digantikan oleh Pangeran benawa pada tahun 1582. Saat itu bersama dengan Pangeran Arya Pangiru sebagai bupai demak. Arya Pangiri selalu berusaha untuk merebut daerah kekuasaan kerajaan pajang.

Arya Pangiri beserta dukungan Penembahan kudus berhasil naik takhta tahun 1583. Akhirnya pemerintahan di pagang oleh Arya Pangiri yang Hanya sibuk dengan Ttujuan balas dendam kepada mataram.

Kehidupan rakyat pajang sangat terabaikan. Karena hal itu Pangeran benawan merasa sangat prihatin dan akhirnya melakukan penyerangan ke pajang. Penyerangan ini menyebebkan kekalahan erhadap Arya Pangiri yang kemudian di kenbalikan kepajang.

Pangeran Banawapun menjadi raja ketiga di pajang yang berakhir pada tahun 1587. Karena tidak ada putra pengganti maka daerah pajang di jadikan bawahan Mataram. Oleh Sutawijaya yang kemudian menjadi kerajaan Mataram Islam yang menjadi raja pertama adalah Penembahan senopati.

Daftar Raja Pajang :




    1. Jaka Tingkir bergelar Sultan Hadiwijaya.
    2. Arya Pangiri bergelar Nagawatipura
    3. Pangeran Benawa bergelar Sultan Prabuwijaya




“ Saluran penyebaran Islam ”

1. Saluran Perdagangan

Proses penyebaran agama islam yang dilakukan oleh para pedagang muslim. Para pedagang muslim banyak bertempat dikota-kota ataupun kampong, sehingga terbentuk perkampunagan muslim seperti Pekojan. Pedagang Islam yang pertama kali menyebarkan dan membawa ajaran islam ke Indonesia adalah pedagang dari Negara arab, Persia, dan Gujarat.

2. Saluran Perkawinan

Proses ini dilakukan dengan cara seorang yang telah menganut agama islam menikah dengan seorang yang masih menganut agama atau kepercayaan sehingga orang tersebut juga ikit menganut kepercayaan atau agama islam. Hal ini seperti yang dilakukan olej :
1. Maulana ishak meikah dengan putrid prabu blambangan yang melahirkan anak Sunan giri

2. Syarif abdulah yang menikah dengan putrid prabu silihwangi melahirka Sunan gunung jati.


3. Saluran Dakwah.

Saluran dakwah ini di lakukan dengan cara memberi penerangan tentang agama islam, lewat pengajian dilingkuangan sekitar dan seperti apa yang dilakukan oleh para walisongo dan ulamanya.

4. Saluran Pendidikan.

Hal ini dilakukan dengan nendirikan pesantren guna memperdalam ajaran agama islam dan selanjutnya akan disebarkan kembali. Misalnya :
1. Pesantren Glagah Wangi Demak yang didirikan Raden patah

2. Pesantren Ampel Denta Surabaya yang dibangun oleh Sunan Ampel


“ Saluran Penyebaran Islam ”

5. Saluran Seni Budaya
Penyebaran ini dilakukan dengan perantara kesenian seperti Seni Wayang, Musik, Gamelan, Seni Bangunan, Ukir, dan Sastra lainya

6. Saluran Tasawuf
Penyebaran dilakukan dengan menyesuaikan pola piker masyarakat yang masi berorientasi pada agama Hindu-Budha.


Faktor yang menyebebkan cepatnya islam berkembang.

  1. Syarat masuk islam sangat muda. Seorang dianggap telah masuk islam bila telah mengucapkan kalimat syahadat.

  1. Pelaksanaan ibadah sederhana dan biayanya murah.

  1. Agam islam tidak mengenal kasta sehingga banyak orang dan kelompok

  1. masyarakat menganut islam, ugar memperoleh persamaan derajat.

  1. Aturan-aturan dalam agama islam fleksibel dan tidak memaksa

  1. Agama islam yang masuk dari Gujarat India mendapat pengaruh hindu dan budha sehingga mudah untuk di pahami dan dimengerti

  1. Penyebaran agama diindonesia diadakan secara damai tanpa adanya kekerasan dan disesuaka dengan kondisi social budaya

  1. Runtuhnya kerajaan majapahit pada akhir abad ke 15






“Peninggalan Sejarah Islam diIndonesia” “(Jawa)”

                       a.Masjid

Adalah tempat umat islam melakukan sujud atau shalat. Masjid berbentuk bujur sangkar dan serambi didepanya. Masjid juga terdapat mihrab atau tempat imam memimpin shalat . Di sebelah kanan mihrab terdapat mimbar Tempat khatib memberikan khotbah. Masjid di Indonesia menghadap kearah timur karena arah kiblatnya adalah barat.

Contoh Masjid Peninggalan didaerah jawa :
- Masjid Demak
- Masjid Sendang Duwur di Surabaya
- Masjid agung kesepuhan di Cirebon
- Masjid Kudus d
- Masjid sunan Ngampel
- Masjid Sumenep dll.

b.Keraton

 










adalah tempat tinggal raja bersama dengan keluarganya.
Contoh Kraton peninggalan didaerah jawa :
- Keraton Kesepuhan
- Keraton Kanaman di Cirebon
- Kraton Yogyakarta
- Kraton Surakarta
- Kraton Mangkunegara


c.Nisan

Adalah bangunan yang terbuat dari batu yang berdiri diatas makam. Berfungsi sebagai tanda adanya suatu makam seseorang yang telah meninggal, dan tertera taggal,bulan, serta tahun lahir dan wafat.
Contoh Nisan di daerah jawa :
- Batu nisan makam sunan Gunung Jati
- Batu nisan makam sunan ampel di Surabaya
- Batu nisan makam sunan Drajad di Lamongan
- Batu nisan makam sunan Bonang di Tuban
- Batu nisan makam sunan Tembayat di klaten
- Batu nisan makam Sendangduwor di tuban
- Batu nisan makam Imogiri di jogjakarta



“Peninggalan Sejarah Islam diIndonesia” “(Jawa)”

d.kaligrafi
Adalah seni menulis indah dari komposisi huruf arab. Biasanya terdapat pada dindig masjid Terutama pada Mihrab. Ukiran tersebut disusun dalam ukuran tertentu ada yang berbentuk binatang maupun bentuk yang lainya.
Contoh kaligrafi di jawa :
- Kaligrafi Dewa Genecha di cirebon

e.Kesusatraan
a. Seni sastra
pada umumnya berkembag dipulau jawa yang berisikan ajaran khusus tasawuf, Filsafat, Kemasyarakatan dan tuntunan budi pekerti
Contoh peninggalan tasawuf :
1. Suluk berisi ajaran tasawur : Suluk Sukarsa, Suluk Wujil, Suluk Malang samurai
2. Syair misalnya : Syair Perahu
3. Hikayat : Hikayat Panji Inu Kerapati, DAN Hikayat Bayan Budiman.
4. Babah : Badah Gianti dan Badah Tanah Jawi
5. Kitab ajaran Budi Pekerti : Nitisurti, Nisastra, dan Astabrata
6. Kitab Politik tetap pemerintahan : Sastra Genting dan Adat makuta alam
7. Tradisi dan Upacara : Sekaten atau Grebek Maulud

f.Seni Pertunjukan
Contohnya adalah :
- Perayaan Garebek Besar dan Garebek Maulud
- Seni Wayang :Sunan kalijaga yang berdakwah menggunakan wayang
- Seni Tari : Debus dari Banten
- Seni Musik :kebanyakan menggunakan gamelan seperti Sunan Bonang, Sunan Drajad,dan Sunan Kalijaga

Sejarah Islam Di Sumatra

Islam di Sumatera
Tonggak Islam Pertama yang Berusaha Tetap Tegak

Sumatera mengawali jejak perjalanan Islam di nusantara. Di bagian utara pulau ini pernah berdiri Kerajaan Samudera Pasai yang merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini didirikan oleh Meurah Silu pada tahun 1267 M. Kerajaan yang berdiri di tanah Aceh itu bahkan pernah dikunjungi Ibnu Batutah, pengembara muslim paling ternama sepanjang sejarah.
Daftar sejarah itu bila dirunut ke belakang bisa lebih panjang, karena menurut data sejarah di Aceh Timur, pada abad ke-9 pernah berdiri kerajaan Perlak yang kemudian menggabungkan diri dengan Pasai.

Kekayaan khazanah Islam Sumatera lalu dilanjutkan dengan berdirinya kerajaan Malaka (1402 – 1511) yang didirikan oleh Parameswara, seorang putera Sriwijaya yang menyelamatkan diri dari perebutan Palembang oleh Majapahit. Nama Malaka kemudian masyhur sebagai salah satu pelabuhan penting di dunia. Portugis, Belanda dan Inggris pun merapat di sana.
Masih di bagian Utara Sumatera berdiri Kesultanan Aceh Darussalam pada tahun 1360 dengan ibu kota Kutaraja (Banda Aceh). Sultan Ali Mughayat Syah dinobatan sebagai Sultan pertama pada Ahad, 1 Jumadil Awwal 913 H bertepatan pada 8 September 1507. Selain masyhur dengan sistem pendidikan militer yang baik, komitmennya dalam menentang imperialisme Eropa, sistem pemerintahan teratur dan sistematik, kesultanan Aceh merupakan pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan terutama Islam.
Kesultanan Aceh melahirkan beberapa ulama ternama. Karya-karya mereka menjadi rujukan utama dalam bidang masing-masing. Tersebutlah Hamzah Fansuri dengan karyanya Tabyan fi Ma’rifati al-Udyan. Syamsuddin al-Sumatrani dengan Miraj al-Muhakikin al Iman. Nuruddin ar-Raniry dengan Sirat al-Mmustaqim. Syekh Abdul Rauf Singkili dengan Mi’raj al Tulabb fi Fashil.
Beranjak ke Selatan ada lagi kerajaan Dharmasraya atau Kerajaan Melayu Jambi yang berdiri sekitar abad ke-11 Masehi. Lokasinya terletak di selatan Sawahlunto, Sumatera Barat sekarang dan di utara Jambi. Terdapat juga kerajaan Lingga-Riau yang merupakan perpecahan dari Kesultanan Johor. Pada masa kesultanan ini bahasa Melayu menjadi bahasa standar yang sejajar dengan bahasa-bahsa besar lain dunia, yang kaya dengan susastra dan memiliki kamus ekabahasa. Tokoh besar di belakang perkembangan pesat bahasa Melayu ini adalah Raja Ali Haji, seorang pujangga dan sejarawan keturunan Melayu-Bugis.
Di luar itu berdiri kerajaan-kerajaan Islam yang tersebar di banyak tempat di pulau Sumatera seperti di Padang (Sumatera Barat), Palembang (Sumatera Selatan), Medan (Sumatera Utara) dan Bengkulu. Perkembangan Islam di daerah Padang bahkan diwarnai dengan masuknya aliran Wahabi dan memberi warna khas bagi pergerakan nasional lewat golongan paderi. [infokito]

Sejarah Islam Di Provinsi D.I Aceh



Serambi Makkah Jantung Indonesia  Sejarah perlawanan terhadap berbagai bentuk penjajahan di daerah yang mendapat julukan “Serambi Makkah” itu adalah sekeping dari cerita perjalanan anak bangsa




“Udep sare mate syahid.” Itulah slogan yang pernah hidup dalam sanubari rakyat yang hidup di Aceh. Sejarah perlawanan terhadap berbagai bentuk penjajahan di daerah yang mendapat julukan “Serambi Makkah” itu adalah sekeping dari cerita perjalanan anak bangsa muslim yang bernama Indonesia. Islam yang menggelora di dada tercermin dari sikap patriotik yang mereka tampilkan. Perlawanan demi perlawanan senantiasa ditampakkan guna mengusung sebuah misi suci yaitu hidup mulia atau mati syahid. Dalam sejarah perjalanan bangsa, Aceh menjadi kawasan dalam lingkungan besar Nusantara yang mampu memelihara identitas. Aceh juga memiliki sejarah kepribadian kolektifnya yang relatif jauh lebih tinggi, lebih kuat, serta paling sedikit “ter-Belanda-kan” daripada daerah-daerah lain. Dan itulah sebabnya, mengapa orang Belanda sekelas Van de Vier menyebutkan bahwa “orang Aceh dapat dibunuh, tetapi tak dapat ditaklukkan” (Aceh Orloog/Perang Aceh).

Kilas balik perlawanan orang Aceh dapat ditelusuri dalam buku-buku sejarah, baik yang ditulis dalam bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, maupun Perancis. Sejarah mencatat bahwa peperangan melawan kolonialisme dan imperialisme (1873-1942) telah memaksa Aceh melakukan perlawanan sengit. Bahkan mendongkrak semangat kaum wanitanya untuk tampil ke garda terdepan. Dengan perkasa membela kehormatan sekaligus menggencarkan penyerangan terhadap musuh yang datang pada saat bersamaan. Semangat juang tersebut lahir dari sebuah keyakinan bahwa semua itu pilihan perang sabilillah. Berperang demi kehormatan bangsa dan agama. Menampik setiap tawaran kompromi dan hanya mengenal pilihan membunuh atau dibunuh ketika berhadapan dengan para penjajah.

Babak baru sejarah Aceh dimulai sejak Islam singgah di bumi ujung Barat Sumatera. Saat itu dikenal adanya kerajaan-kerajaan Islam seperti Kerajaan Islam Peureulak (840 M/225 H), Kerajaan Islam Samudera Pasai (560 H/1166 M), Kerajaan Tamiang, Pedir dan Meureuhom Daya. Kemudian, oleh Sultan Alauddin Johansyah Berdaulat (601 H/1205 M) Aceh disatukan menjadi Kerajaan Aceh Darussalam dengan ibukota Bandar Aceh Darussalam yang bergelar Kutaraja.

Kerajaan Aceh Darussalam inilah yang memperluas penaklukannya ke negeri-negeri Melayu sampai ke Semenanjung Malaka yang pada abad kelima, Aceh menjadi Kerajaan Islam terbesar di Nusantara dan kelima terbesar di dunia. Sang penakluk itu bernama Sultan Alauddin al Kahhar dan dilanjutkan oleh Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam. Penaklukan yang dilakukan Aceh bukan untuk menjajah suku bangsa lain, tetapi untuk melindungi mereka dari penjajahan Portugis (A Hasjmy; Hikayat Perang Sabil Menjiwai Perang Aceh Melawan Belanda. Jakarta: Bulan Bintang 1997).

Pada masa jayanya, Aceh sudah menjalin hubungan dagang dan diplomatik dengan negara-negara tetangga, Timur Tengah dan Eropa. Antara lain dengan Kerajaan Demak, Kerajaan Pattani, Kerajaan Brunei Darussalam, Turki Utsmani, Inggris, Belanda dan Amerika. Kerajaan Aceh Darussalam memiliki hukum sendiri, yakni “Kaneun Meukuta Alam” yang berdasarkan Syariah Islam. Dengan hukum tersebut rakyat yang bernaung dalam Kerajaan Aceh Darussalam mendapat keadilan hukum. Karena itulah, banyak wilayah penaklukan yang merasa senang bergabung dengan Aceh. Seandainya tidak ada hasutan dari pihak kolonial, boleh jadi daerah taklukan tidak melepaskan diri dari Kerajaan Aceh Darussalam.

Ketika kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara sudah ditaklukkan kolonial Barat, Aceh masih berdaulat sampai akhir abad ke-18. Bangsa kolonial, baik Portugis, Inggris, maupun Belanda bukannya tidak berambisi menaklukkan Aceh, tetapi mereka gentar kepada keunggulan Angkatan Laut Aceh yang menguasai perairan Selat Malaka dan Lautan Hindia. Saat itu Angkatan Laut Aceh memiliki armada yang tangguh berkat bantuan senjata dan kapal perang dari Turki Utsmani. Salah satu yang terkenal itu adalah Laksamana Malahayati.

Malahayati, Cut Nyak Dhien, Cut Muetia, dan Pocut Meurah Intan merupakan deretan nama yang menjadi simbol perjuangan kaum perempuan (inong) di Aceh. Mereka terdiri dari kalangan muda, tua maupun janda juga terlibat dalam kancah perjuangan. Begitupun mereka berusaha sekuat mungkin agar perjuangan tidak menghilangkan kodrat kewanitaan. Sebagai wanita yang harus mengandung dan melahirkan tetap dijalani dalam sebuah peperangan. Terkadang harus melaluinya dalam kondisi antara dua peperangan. Kebanyakan berjuang bersama-sama suaminya. Dengan tangan yang kecil mungil lincah memainkan kelewang dan rencong menjadi senjata dahsyat di hadapan lawan, di samping terus menimang bayinya seraya bersenandung semangat perjuangan. Memompakan semangat jihad dengan syair yang indah:

Allah hai do kudaidang
Seulayang blang kaputoh taloe
Beu rayek sinyak rijang-rijang
Jak meuprang bela nanggroe

timang anakku timang
layang-layang sawah putus benang
cepat besar anakku sayang
pergi berperang bela negara

Tidaklah berlebihan apabila H.C. Zentgraaff, seorang penulis dan wartawan Belanda yang terkenal dan banyak menulis tentang sejarah perang melawan Belanda di Aceh mengatakan bahwa para wanitalah yang merupakan “de leidster van het verzet” (pemimpin perlawanan) terhadap Belanda dalam perang yang terkenal tersebut. Bahkan sejarah Aceh mengenal “Grandes Dames” (wanita-wanita agung) yang memegang peranan penting dalam politik maupun peperangan baik dalam posisinya menjadi sultaniah atau sebagai istri orang-orang yang terkemuka dan berpengaruh.

Senin, 21 Desember 2009

Sejarah Islam Di Indonesia

google9cf0fec9b1be0a85.html

Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.

Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi'i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.

Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil'alamin.

Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah - terutama Belanda - menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.

Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.

Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi'i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).

(Bersambung)